Kalau Mati Pun Berharga di Mata Tuhan Apalagi Ketika Hidup ?

Kalau Mati Pun Berharga di Mata Tuhan Apalagi Ketika Hidup ?

Mazmur 116 : 12 – 19

  1. Memang tidak disebut siapa apa dan bagaimana keadaan pe-mazmur. Secara singkat ia sebut: “Tali-tali maut telah meliliti aku, dan kegentaran terhadap dunia orang mati menimpa aku, aku mengalami kesesakan dan kedukaan” (ay.3).  Kalau tali-tali maut melilit, dunia orang mati menimpa, siapa yang dapat menolong ? Tetapi Pemazmur berseru kepada Tuhan (ay.4). Tuhan menjawabnya. Sehingga “Aku boleh berjalan di hadapan TUHAN, di negeri orang-orang hidup” (ay.9), katanya. Inilah yang direnungkan pe-Mazmur dengan melihat hatinya terdalam. Ia sampai kepada pertanyaan kepada dirinya : “Bagaimana akan kubalas kepada Tuhan segala kebaikanNya kepadaku ?” (ay.12). Dia tidak bertanya “dengan apa”. Kalau dengan apa, jelas tidak ada. Semua dari Dia. Jika dikaitkan pengorbanan, kasih Tuhan Yesus, apa kita buat membalas ganti nyawaNya ?. Tidak ada!. Tetapi dengan memakai kata “bagaimana akan” (What shall I render, naha ma, tung beha ma), selaku manusia banyak yang dapat ia perbuat kepada Tuhan. Juga kita.
  2. Memang kalau membalas dengan apa Tidak mungkin. kepada orangtua saja, tidak mungkin terbalas. Namun tindakan, kasih, perbuatan Tuhan, “bagaimana akan kubalas ?”. Berlalu ?. Diamkan saja ?. Peduli amat. Tapi maaf. Jangankan manusia. Hewan peliharaan saja tahu membalas kebaikan tuannya. Apa kita ini lebih rendah dari instink hewan ? Kasihan yaaa. Memang kadang kita ini belum sampai pada hidup “bagaimana akan kubalas … ?”  Tetapi sering dingin. Seolah tidak ada  sama sekali. Tidak ada hubungan apa pun dengan Allah. Siapa Allah ? Saya, ya saya ! Apa yang diperbuat Allah kepada saya ? Perenungannya siang malam tidak pernah : bagaimana akan kubalas kepada Tuhan …, melainkan bagaimana supaya “aku” begini, begitu dst. Kecerdasan spritual jongkok. Nol. Baru kalau gagal, sakit parah, punya masalah serius, baru perlu  Tuhan ?.
  3. Semoga kita di Jemaat ini sudah bertumbuh menjadi cerdas spritual. Sadar dan senang, selalu bertanya pada diri : “bagaimana akan kubalas kepada Tuhan ?” Bersama keluarga atau di persekutuan Jemaat bertanya : bagaimana akan kita/kami balas kepada Tuhan … ? Pasti berkat akan mengalir. Sebab Tidak hanya pengorbanan Yesus membebaskan kita dari maut dan kematian. Tetapi pemberian Tuhan yang kita terima tiap hari.  Misalnya udara. Tahu berapa kubik satu jam kita pakai secara gratis ? Atau keajaiban organ tubuh kita. Tahu berapa jauh darah dipompakan jantung saudara sekali denyut ? Berapa kubik 1 jam dipompakan ? Berapa umur saudara sekarang ? Apakah saudara sadar setiap hari saudara, anak-anak dan keluarga saudara diancam lilitan maut dan kematian di Jakarta ini ? Siapa menjaga, memelihara, menjamini agar selamat ?
  4. Kalau pemazmur dengan kesadaran dan kecerdasan spritualnya, ia menyatakan bagaimana akan membalas kepada Tuhan segala kebajikanNya, ada empat hal :
    1. akan mengangkat piala keselamatan (13a). Bagi orang Israel, piala yakni cawan, dipakai tempat minuman. Bukan pajangan. Demikianlah yang dipakai, diangkat pemazmur tiap hari piala keselamatan dari Tuhan. Bukan kebolehan, usaha, kemuliaan atau dirinya. Tapi keselamatan, kemuliaan Tuhan. Apa yang kita angkat ?. Diri kita ?. Makanya terus terbatass
    2. akan menyerukan nama Tuhan (ay.13b). Kepada siapa kita sering berseru?.  Kekuatan, kehebatan diri sendiri ? Atasan ? Uang dan jabatan ? Dukun ? Tidak tahu ? Ini semua terbatas. Kita sudah tahu kasih Yesus. Mati pun Ia mau, asal kita hidup. Kenapa tidak berseru kepadaNya? Bagaimana kalau anak saudara asal sulit dia diam, atau pergi ke bapak orang lain ?. Cemburu dan marah nggak ?  Bagaimana dengan Yesus ? Kemana kita berseru ?.
    3. akan membayar nazarnya kepada Tuhan … (ay.14,18). Nazar dalam Alkitab dapat berupa kehendak melaksanakan suatu tindakan; menjauhkan diri dari suatu tindakan (Maz. 132: 2); belas kasihan Allah (Bil. 21 : 1-13); kegairan atau penyerahan diri kepada Allah (Maz.22:25), dlsb. Kita juga karena sesuatu, lalu berkata kepada diri sendiri, didepan orang lain, kepada Tuhan, misalaya  : akan berhenti merokok, marah-marah, bohong, akan mengasihi keluargaku, akan rajin ke Gereja, dlsb. Ini nazar. Bukan harus hal-hal hebat. Baca Kej. 29 : 20-21 ! Masalahnya, sudah kita bayar ? Atau terus kredit sampai mati ? Bayarkah ! Kamu yang janji ! Supaya ditambah berkatNya.
    4. akan mempersembahkan korban syukur .. (ay.17). Yesus mempersembahkan diriNya, nyawaNya demi keselamatan kita. Apa yang kita persembahkan sebagai korban kepada Yesus ? Hati dan seluruh hidup kita ? Atau masih sekedar-sekedar dan masih kebesaran nama kita ?
  5. Kita lihat bagaimana respon pe-Mazmur kepada Tuhan. Bagaimana kita ?. Dan sungguh, hanya Tuhan yang sangat mengasihi kita. Manusia hanya sebatas kalau kita hidup. Jangan-jangan hanya semasih bermenfaat. Tapi Allah, ay. 15 : “Berharga di mata Tuhan kematian semua orang yang dikasihiNya”.  Saya pernah menggambarkan hal ini. Maaf. Di kampung, ada “nenek” tertabrak. Hanya 10 kg dan mati. Tapi ada yang mau berkata : Sama sayalah itu. Saya bayar pun sedikit”. Lalu seandainya saya tertabrak, berat 78 kg dan mati. Apa ada yang mau mengatakan, sama sayalah itu ?. Tetapi bagi Allah, mati pun kita berharga dimataNya. Apa lagi ?. Makanya bagaimana kita akan membalas kepada Tuhan segala kebaikanNya ? Nama siapa yang kita angkat dan serukan ? Mangkanya kalau kecewa pun jangan terus meninggalkan Yerusalem dan pergi ke Emmaus (sumber air panas). Ini tidak jawaban.  Tunggu dan percaya. Dengar khotbah hari ini !. Amin. 

Comments are closed.