Biar Menderita Sementara, Asal Ditinggikan Tuhan ?

Biar Menderita Sementara,
Asal Ditinggikan Tuhan ?

1) Yang namanya manusia, semua ingin lebih tinggi. Kalau boleh dalam semua bidang kehidupan. Jabatan, kehormatan, kemuliaan, keturunan, dst. Dan untuk “hidup lebih tinggi” ini, manusia rela berusaha dan berjerih payah siang dan malam. Bahkan sebagian dengan menghalalkan segala cara. Atau berpura-pura tinggi, seperti sindiran kata-kata hikmat “sedo jingkat patambah ganjang”. Demikian orang Simalungun bilang. Dan keinginan lebih tinggi ini berkaitan dengan hati. Bukan pikiran. Efeknya juga tidak terlepas dari “suka hati” (malas ni uhur), atau hati yang duka (pusok uhur). Kadang merasa lebih tinggi, menjadi tinggi hati (congkak) yang bertentangan dengan Tuhan. Sebaliknya Tuhan mengasihani orang yang rendah hati (1 Pet. 5 : 5). Jika demikian bagaimana agar dapat kita peroleh dan nikmati hidup lebih tinggi yang sesungguhnya ?

2) Kesaksian Alkitab menyebutkan, Allah tidak melarang manusia, anak-anakNya lebih tinggi. Bahkan merupakan bagian rencana dan kehendak Allah. Misalnya : Abraham, Isak, Yakub. Yusuf, Daud, Sulaiman, Ayub, dlsb. Semua bukan karena usaha mereka. Tetapi Allah memberikan. Bahkan raja-raja sekitar mereka juga tunduk dan hormat kepada mereka. Berkaitan dengan hal inilah, Rasul Petrus menasehati Jemaat Tuhan yang tersebar di Pontus, Galatia, Kapadokia, Asia Kecil dan Bitinia (1 Pet.1 : 1). Pergumulan, penindasan yang mereka alami, bukan itu akhirnya. Tetapi apakah penatua, hamba, orang muda; semua yang diperkenankanNya akan ditinggikan. Bukan kemuliaan sebatas dunia. Melainkan mahkota kemuliaan yang tidak dapat layu (1 Pet. 5 : 4). Ini tujuan hidup. Tidak ada kemuliaan yang lebih tinggi dari sini. Kalau mahkota kemuliaan kekal saja Tuhan mau memberikan. Apa sulitnya bagi Dia memberikan mahkota dunia seperti yang diterima orang-orang percaya dahulu kala ?. Banyak fakta tentang hal ini. Persoalannya bagaimana agar kita memperolehnya ?

3) Dengan membuka ayat 6 dengan kata “Karena itu”, mengatakan bahwa kita kita juga dapat memperoleh kemuliaan itu. Dan ternyata dari segi iman sangat mudah dan sederhana. Sebab Tuhan hanya meminta agar kita merendahkan diri kita di bawah tangan Tuhan yang kuat (ay.6a). Cuma sering kita menyebut sulit. Sebab kita menganggab, merasa diri hebat, kuat inilah yang merasuki manusia. Menganggab semua boleh, termasuk buah pohon di tengah taman (Kej.3 : 4 – 5). Inilah yang meracuni, mengina bobokkan manusia sampai sekarang, sehingga sulit merendahkan diri. Sebaliknya membanggakan diri, ego, akunya. Tapi faktanya. Apa kemuliaan manusia itu sekarang ? Penderitaan ? Perang ? Kebencian ? Kemiskinan ?

4)     “Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat”.  Ini kunci untuk ditinggikan. Kita lihat Abraham, apa dia dari Ur Kasdim ?. Yusuf di Mesir. Daniel di Babel, dlsb. Semuanya hanya karena mau merendahkan diri di bawah tangan Tuhan yang kuat. Sehingga Tuhan bebas membentuk, bebas melakukan rencanaNya, menyatakan kuasaNya. Sehingga mereka tidak hanya selamat. Tetapi menjadi sumber pembawa keselamatan. Celakanya, orang yang tidak mau merendahkan dirinya, pasti tidak mau menyerahkan kuatirnya kepada Tuhan (ay.7). Dia menganggab dirinya hebat. Dia tidak kuatir katanya. Tetapi paling banyak susahnya. Menjadi orang yang paling menderita, tidak pernah tenang, sebab ingin menyediakan sendiri. Kasihan. Nampaknya saja senang dan tenang ?

5)     Tetapi, bagaimana agar dapat menyerahkan diri di bawah tangan Tuhan ?. Sebenarnya hal yang wajar-wajar saja. Tidak usah dipikir banyak. Tuhan itu kan Pencipta. Kita ciptaanNya. Masak tidak mau merendahkan diri kepada penciptanya ?. Kan bodoh dan konyol. Tapi inilah permainan iblis. Ini juga yang diingatkan Rasul ini. Kita harus sadar dan berjaga-jaga. Lawanmu si iblis berjalan keliling seperti singa yang mengaumaum mencari orang yang dapat ditelannya” (ay.8). Tidak ada tempat yang tidak didatangi iblis. Dan dia seperti namanya, iblis = satan, diabolos, penghujat. Ketika Yesus puasa, Dia lapar. Iblis berkata : “Kau kan anak Allah, perbuatlah batu ini jadi roti. Masak ditahankan lapar.  Iblis terus menghujat. Kepada pekerja bangunan, buatlah besi ini, aspal ini jadi roti. Masak kau pasang semua, kau kelaparan ?. Bodoh kamu ! Datang KPK, ia tepuk tangan. Kepada yang mau tobat atau mau perjamuan. Kamu kan orang jahat. Beraninya kamu ke Gereja. Menerima perjamuan lagi ?. Pokoknya siapa yang dapat ditelan akan didatangi dan habis. Kecuali orang yang sudah jahat, iblis tidak mendatangi lagi, sebab sudah temannya. Siapa kita ?

6)     Karena itu pengikut Yesus harus sadar, berjaga-jaga dan harus melawan. Diam pasti dikalahkan. Yesus saja harus berkata : “Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!” (Mat.4 : 10). Ini maksud Rasul Petrus melawan dengan iman teguh. Hanya kuasa Firman Tuhan pencipta dan penebus membuat iblis takluk dan pergi. Tidak ada kekuatan lain. Dan bagaimana pun penderitaan yang kita alami, semuanya penderitaan yang biasa dan dihadapi semua manusia di dunia. Dan harus kita ingat ! Bagaimana pun hebatnya kuasa iblis menggoda, penderitaan yang kita alami, tapi ada kok yang menjamini kita. Yakni “Allah sumber segala kasih karunia …, akan melengkapi, meneguhkan, menguatkan dan mengokohkan kita sesudah menderita seketika lamanya. Ialah yang empunya kuasa sampai selama-lamanya” (ay.10-11). Dengan merendahkan diri dibawah tangan Tuhan, mari kita lampaui penderitaan, taklukkan iblis, biarkan Tuhan mengangkat kita lebih tinggi sampai memperileh mahkota kemuliaan kekal. Amin.  

Comments are closed.