Allah Israel adalah Allah yang cemburu (Kel. 20:5). Ayat yang terdapat dalam Dasa Titah itu menggambarkan salah satu karakter Allah. Allah cemburu karena umat Israel adalah milik-Nya. Bila mereka tidak menyembah Tuhan berarti mereka menolak mengakui Dia sebagai Pemilik dan Penebus mereka. Ini menjadi dasar pemberlakuan berkat atau kutuk dalam ikatan perjanjian (1-2).

Ayat 3-13 berisikan janji-janji berkat. Allah yang telah bertindak menebus umat-Nya dari perbudakan Mesir kemudian menjanjikan berkat yang limpah, baik dari segi ekonomi, yaitu kecukupan dalam kehidupan sehari-hari (4-6), maupun dalam hal keamanan dari para bangsa musuh yang mengintai (7-8). Janji berkat-Nya juga akan diteruskan kepada anak cucu Israel (9), yang akan menikmati kelimpahan yang dialami oleh generasi-generasi sebelumnya (10). Allah sendiri akan menjadi Raja mereka, yang memerintah dari kemah suci yang ada di pusat perkemahan Israel (11-12). Mereka akan selama-lamanya menjadi umat Tuhan dan Tuhan menjadi Allah mereka. Kalimat terakhir ini merupakan esensi perjanjian Sinai. Inilah janji anugerah. Sayangnya kelak dalam perjalanan hidup bangsa Israel, mereka begitu mudah melupakan kesetiaan Allah, bahkan meragukan kasih dan kuasa-Nya. Kekhawatiran akan kecukupan dalam hidup sehari-hari ternyata membuat mereka meragukan Allah, bahkan berkhianat terhadap-Nya. Akibatnya mereka pun menerima kutuk (14-39).

Janji berkat yang diberikan kepada Israel juga dianugerahkan kepada umat Tuhan masa kini di dalam Kristus. Melalui Kristus, Allah menyatakan pemeliharaan-Nya. Namun tidak berarti anak Tuhan tidak akan menghadapi masalah, melainkan akan mendapatkan kekuatan dan kemenangan menghadapi masalah-masalah itu. Oleh karena itu, jangan biarkan kekhawatiran akan hidup mencengkeram kita, sehingga kita melupakan bahkan menyangsikan kuasa dan kasih setia Tuhan. Hiduplah sedemikian rupa sehingga kita tidak mengkhianati Dia. Jangan sampai kita mengalami kutuk dahsyat, seperti yang dialami oleh Israel.

http://renungan.stefanussusanto.org/2014/03/e-sh-26-maret-imamat-261-13-janji.html