“Menjadi Ruang Berkat yang Meneguhkan”

Rintisan Awal GKPS Jemaat Cikoko

Jemaat Cikoko terbentuk pada saat sebagian dari anggota GKPS Kwitang memutuskan memulai Kebaktian Minggu di Gedung Himpunan Sekolah Kristen (HSK) jalan Salemba Raya pada tanggal 7 Maret 1965, dan dihadiri oleh 18 orang. Keputusan untuk memulai kebaktian ini muncul antara lain karena gedung yang dipakai GKPS Kwitang dilihat tidak mampu lagi menampung anggota yang hadir pada saat kebaktian berlangsung, khususnya bila tiba perayaan Natal dan Tahun Baru. Di samping alasan di atas, muncul juga kesadaran bahwa perlulah emansipasi sejumlah warga dewasa terhadap kepemimpinan yang ada di GKPS Kwitang. Ada dinamika di seputar kepemimpinan gereja yang mendorong lahirnya inisiatif dari sejumlah orang membangun persekutuan baru yang mandiri.

Berapa anggota jemaat melakukan pertemuan pada bulan Januari 1965 di rumah bapak Pain Damanik (Jalan Merdeka Selatan), dan membicarakan kemungkinan untuk memulai satu jemaat baru. Pertemuan selanjutnya diadakan di rumah Bapak Laidin Y. Purba di Jl. Salemba Raya 15, pertemuan lainnya ada yang berlangsung di rumah Bapak Barens Th. Saragih.

Hasil pertemuan-pertemuan itulah yang membuat mereka menetapkan bahwa pada 7 Maret 1965 berlangsung kebaktian yang pertama. Khotbah dibawakan oleh Pendeta Tentara, Pdt. U. Muller Purba. Beberapa hari sebelumnya, yakni tanggal 4 Maret 1965 ini telah pula terbentuk Majelis Jemaat yang terdiri dari St. Laidin Y. Purba (sebagai Pengantar Jemaat ) Sy. Djaubung Saragih (Sekretaris) dan St. Guntaralam Purba (Bendahara ). Anggota Majelis Jemaat ialah St. Sardonik Sumbayak, St. J. Edison Saragih, Sy. Washington Purba, Sy. Japorman Saragih, Sy. O.F. Girsang dan Sy. Muller Damanik.

Pembaptisan pertama di Jemaat yang selanjutnya diberi nama GKPS Salemba ini dilaksanakan pada bulan Juni 1965 atas anak Bapak Gusi Saragih dan dilayani oleh Pdt. Gabriel dari Jemaat GPIB Tanjung Priok.

Pada tahun-tahun setelah pembentukan jemaat, maka aktifitas berkunjung dan kegiatan mangarah (mengajak orang–orang Simalungun untuk datang beribadah ke gereja) menjadi kegiatan penting. Kegiatan ini diiringi dengan kebaktian-kebaktian dan doa di rumah (pertonggoan), dan kegiatan lainnya yaitu kebaktian penghiburan di rumah-rumah keluarga yang mengalami kedukaan. Dalam masa ini berlaku semangat penggembalaan kaum awam kepada sesama warganya yang sedang menghadapi pergumulan. Para anggota majelis pun terus membenahi kompetensi pemberitaannya melalui “Sermon” (Penelaahan Alkitab bersama, yang bertujuan mempersiapkan bahan kotbah baik di partonggoan rumahtangga dan ibadah minggu) yang diadakan setiap hari Jum’at pukul 20.00 – 22.00 bertempat di gedung HSK. Melalui berbagai kegiatan sebagaimana disebut di atas, pertambahan anggota cukup beranggotakan 258 Jiwa.

Mencari lokasi gedung Gereja

Dalam semangat pertumbuhan tersebut, maka pada 30 Juni 1965, jemaat ini membentuk “ Djadjasan Dana Pembangunan Geredja Simalungun” (disingkat Dapegesid) yang diketuai oleh St. Guntaralam Purba dan Bapak O.F. Girsang (selaku bendahara). Dapegesid segera berusaha mencari sebidang tanah bagi pembangunan Rumah Ibadah. Pada tahun 1967 Keluarga St. Guntaralam Purba menyerahkan tanah seluas 500 m2 untuk pembangunan rumah ibadah jemaat tersebut. Namun masyarakat sekitarnya memberikan reaksi tidak setuju dibangun Rumah Ibadah Kristen di daerah Galur-Johar Baru itu. Kemudian warga GKPS Salemba membeli sebidang tanah di daerah Kopro Banjir Tebet. Di atas tanah yang telah di pagar itu rumah Ibadah juga tidak boleh dibangun, mengingat di lokasi tersebut akan dibangun Kantor Kecamatan dan gedung Komseko.

Pada tanggal 4 September 1966, jemaat ini diresmikan menjadi jemaat penuh oleh Pdt. Duniaman Purba. Peresmian Jemaat ini dilangsungkan bersamaan dengan “Pesta Olob – Olob“ (Pesta Ucapan Syukur) GKPS untuk memperingati 63 tahun Injil di Simalungun. Dengan diresmikannya jemaat ini maka ia disebut jemaat GKPS Jakarta II (GKPS Kwitang menjadi GKPS Jakarta I). Peresmian ketika itu dihadiri oleh Menteri Sosial RI yaitu M.T Tambunan dan Laksamana John Lie. Ketua pelaksanaan peresmian ialah Bapak St. Zakana Saragih. Ditetapkan juga saat peresmian itu St. S. Don Sumbayak sebagai Pengantar jemaat, St. Japorman Saragih sebagai Sekretaris dan St. Jaubung Saragih sebagai Bendahara. Pada saat peresmian menjadi satu jemaat penuh, jumlah aggotanya terdiri dari 50 KK, 100 orang Pemuda dan sejumlah Remaja serta Anak Sekolah Minggu.

Pada bulan Januari 1970 GKPS Jakarta II kemudian membentuk satu yayasan sebagai pembaharuan dari Dapegesid, yang diberi nama “Yayasan Pembangunan Gereja“, dan pengurusnya ialah Bapak Drs. Barens Th. Saragih, Bapak Budiman Sidauruk dan Bapak Muller Damanik. Yayasan ini kemudian membeli sebidang tanah dengan luas 860 m2 di Jalan Pedati, Kampung Melayu–Jakarta, namun di tempat ini juga Rumah Ibadah tidak dapat dibangun, karena daerah ini di peruntukan bagi bangunan bertingkat. Walau berturut-turut sejak dari rencana di Galur sampai di Jl. Pedati terhalang, semangat anggota Jemaat tidak pernah mengendor. Sementara jumlah yang menghadiri Kebaktian Minggu juga semakin bertambah. Kenyataan ini turut memotivasi Panitia Pembangunan untuk terus mencari lokasi baru.

Akhirnya pada tahun 1975 keluarga Bp. Muller Damanik bersedia menukarkan tanah miliknya seluas 1000 m2 di daerah Cikoko dengan tanah milik GKPS Jakarta II yang berada di Jalan Pedati tersebut. Berkat kesediaan keluarga ini, maka Jemaat GKPS Jakarta II mulai mendirikan sebuah bedeng untuk tempat melaksanakan kebaktiannya. Akan tetapi tantangan dan hambatan terus saja datang silih berganti. Pada saat Jemaat ini mulai melaksanakan kebaktiannya, langsung mendapatkan larangan dari pemerintah untuk tidak mengadakan kebaktiaan di tempat itu. Mendapat larangan seperti itu, Jemaat ini tidak lantas diam. Mereka terus berusaha melakukan pendekatan simpatik kepada RT, RW, Lurah dan masyarakat setempat.

Berdirinya Gereja GKPS Cikoko

Dalam menghadapi tantangan penolakan masyarakat di atas, tentulah berkali-kali diadakan pertemuan untuk mencari solusi terbaik. Paralel dengan hal itu, beberapa ibu merasa bahwa rapat-rapat terlalu berkepanjangan, dan muncullah inisiatif untuk langsung saja mengerjakannya. Inisiatif muncul dari Seksi Wanita jemaat yaitu dari Ny. Budiman Sidauruk (Melly Damanik), Ny. L.Y. Purba, Ny. Muller Damanik, Ny. J. F. Simarmata, Ny. Annis Sinaga (Inang Sugiarti) dan Ny. Kander J. Purba.

Pembangunan rumah ibadah sementara itu pun memiliki keunikan tersendiri. Pada pertengahan tahun 1975 pembangunan Gedung MPR- DPR RI di Senayan sudah hampir selesai. Kepada para pemborong diberikan kebebasan untuk mengambil atau memindahkan material dari bangunan darurat/bedeng yang ada di sana. Saat itu St. J. F. Simarmata sebagai direktur PT. Sinar Gaya Sari turut mendapat pekerjaan melaksanakan sebagian sarana Gedung MPR-DPR yaitu pekerjaan jalan, lapangan parkir dan taman. Sebagian biaya pekerjaan borongan di atas dikompensasikan dengan cara “tukar guling” terhadap bangunan kantor pimpinan proyek (directiekeet). Mengingat kaum ibu GKPS Cikoko (Jakarta II) telah berinisitaif memulai bekerja, maka St. J. F. Simarmata memberitahukan bahwa di Senayan ada bangunan/bedeng dan sejumlah material yang telah menjadi milik PT. Sinar Gaya Sari yang dapat dibongkar dan digunakan untuk bahan bangunan rumah ibadah di Cikoko. Pemberian ini disambut baik oleh kaum ibu di atas.

Maka berangkatlah mereka, dimulai dengan doa, untuk mengangkut sejumlah material dari bedeng di Senayan ke Cikoko. St. Annis Sinaga, mewakili majelis jemaat (beliau kala itu adalah wakil Pengantar Jemaat) turut serta membongkar dan memasang kembali bangunan/bedeng tersebut. Itulah yang menjadi tiang-tiang pertama GKPS Cikoko, dan kaum ibu dengan setia menemani proses pendiriannya.

Berkat kerjasama di atas, maka tanggal 14 Maret 1976, GKPS Jakarta II dapat melaksanakan Kebaktian Minggu yang pertama di Cikoko, yang menjadi tempat awal GKPS Cikoko tersebut. Kebaktian pertama dipimpin oleh Ephorus GKPS, Pdt. S.P. Dasuha. Namun pada minggu berikutnya kebaktian di tempat ini tidak dapat lagi dilaksanakan karena sikap keberatan dari beberapa orang warga setempat. Momen ini juga memberi kesan pedih bagi St. Annis Sinaga, sebab ia diminta menunggu di depan dan bertugas memberitahu kepada setiap warga GKPS yang mau ke gereja bahwa hari itu tidak boleh beribadah lagi di Cikoko: “aku seperti apa ini, melarang parmingguan di gereja sendiri”, ucapnya lirih kepada St. L.J. Purba. Kebaktian pun kembali diadakan di gedung lama yaitu di sekolah di jl. Salemba Raya.

Akan tetapi pada minggu berikutnya (28 Maret) beberapa orang dari anggota majelis Jemaat dan anggota Jemaat kembali mengadakan kebaktian di Cikoko, setelah sebelumnya bersilaturahim dengan warga setempat. Sejak itu Kebaktian Minggu di Cikoko boleh dikatakan bisa berjalan dengan rutin. Tetapi beberapa waktu kemudian, saat menjelang Natal 1976, ada beberapa orang yang tidak dikenal hendak membakar gedung gereja dengan melempar obor ke pekarangan gereja, dimana di dalamnya ada beberapa mobil. Tetapi obor dapat dipadamkan oleh pemuda-pemuda gereja. Malah sumbu-sumbunya ada yang tidak bisa terus menyala dan tergeletak di sekitar dinding gereja.

Dengan berlangsungnya secara kontinu kebaktian di tempat itu, semangat untuk membangun pun terus menyala. Rancangan arsitektur rumah ibadah disiapkan oleh Bapak Ir. Maruli T. Simarmata dengan bapak St. Elias Damanik dan dibantu bapak Aman Tuah Purba sebagai pelaksana di lapangan. Bersama panitia pembangunan yang terdiri dari Bapak Budiman Sidauruk, St. Drs. Barens Th. Saragih, St. Muller Damanik dan Bapak H.T. Manalu. Pada tahun 1977, jemaat GKPS Jakarta II merencanakan pembangunan rumah ibadah yang permanen. Tentu saja selama kesibukan pembangunan berlangsung, tantangan demi tantangan terus datang silih berganti, antara lain dipanggilnya Ketua Majelis oleh Camat Mampang dan Kapolres atas pengaduan dan keberatan masyarakat sekitarnya. Panggilan tadi dipenuhi oleh St. S. Don Sumbayak didampingi oleh St. Budiman Sidauruk. Turut serta mengadakan langkah persuasif ke berbagai pihak ialah St. J.E. Saragih, St. Annis Sinaga, St. H.T. Manalu dan Bapak Kol. LSM Panggabean. Akhirnya pada tanggal 25 September 1977 diadakan peletakan batu pertama atas bangunan gereja di Cikoko. Pada tanggal 26 Maret 1978 oleh Ephorus GKPS, Pdt. A. Munthe dilaksanakan peletakan batu penjuru (batu onjolan). Untuk menuntaskan pengerjaan gedung permanennya maka Project Officer diemban oleh St. J.F Siamarmata. Kemudian rumah ibadah ini ditahbiskan pada tanggal 27 Maret 1983.

Aktifitas Jemaat Terus Bertumbuh

Pelayanan untuk Sekolah Minggu GKPS Cikoko dirintis oleh tiga warga jemaat yang adalah guru Sekolah Minggu, yaitu Basri Silalahi, Erika Damanik dan Cristelia Saragih. Walaupun mereka merasa masih awam dalam seluk belum ilmu pengajaran SM, tetapi dengan modal semangat pelayanan dan dukungan Majelis, maka pengajaran dan kebaktian di Sekolah Minggu tetap berjalan. Ketiga guru tersebut selanjutnya dikukuhkan Majelis sebagai pengurus Sekolah Minggu pertama untuk masa bakti 1965-1967.

Pada tahun 1967 dilakukan pergantian kepengurusan guna melanjutkan dan meningkatkan pelayanan yang telah dirintis oleh pengurus pertama tadi. Pengurus kedua terdiri dari Ny. L. Y. Purba, Ariaman Saragih, Patiman Sinaga, Elsye Saragih, Roimta Sinaga, Renta Purba dan St. Annis Sinaga. Pengurus kedua ini sudah lebih dipelrengkapi dengan berbagia ketrampilan, mengingat latar belakang mereka yang sebagian adalah guru di sekolah negeri maupun swasta. Walaupun masih menumpang di Sekolah Kristen Penabur, pelayanan terhadap 20 s/d 30 anak sekolah minggu dalam satu kelas berlangsung dengan baik setiap minggunya.

Dengan kepindahan lokasi rumah ibadah dari Salemba ke Cikoko, pelayanan mereka berlanjut terus hingga tahun 1985. Pemilihan Pengurus Sekolah Minggu waktu itu dilaksanakan dua tahun sekali. Untuk periode 1980 – 1982 dan 1982 – 1985 yang bersangkutan tetap menjadi pengurus, karena dianggap peran besar mereka dalam upaya memajukan Sekolah Minggu. Hal ini dapat dilihat pada saat pembangunan gedung sekolah minggu pada tahun 1981, melalui kerja keras dengan menyelenggarakan “ Pentas Senja” di Studio 5 RRI guna mengumpulkan dana pembangunan. Karena jumlah anak Sekolah Minggu terus bertambah maka diadakanlah pembagian kelas yaitu kelas TK, Anak Tanggung dan Remaja. Demikian juga para guru semakin bertambah.

Pada periode 1995 dilakukan pula beberapa penyempurnaaan berupa perbaikan sarana maupun prasarana pelayanan, SDM dan administrasi pelayanan, diantaranya pembangunan “kantor mini” Sekolah Minggu sebagai tempat mengatur tugas pelayanan dan persiapan Tim Musik, juga Tim Materi Pembelajaran, Tim Alat Peraga dan Tim Tarian. Pelayanan para guru pun dikelompokkan menjadi: pembawa cerita Alkitab, penyusun alat-alat peraga/bantu, pelayan Musik, serta pembina kegiatan pendukung seperti ansembel musik, koor dan tari daerah. Guru-guru juga sering diutus mengikuti lokakarya dan pelatihan di tingkat ekumenis.

Semula, di tahun 1990an ada masanya kelas SM berlangsung di bawah pohon (“kelas pohon”), lalu meningkat menjadi “kelas tenda” karena ruangan yang ada tidak dapat menampung seluruh murid yang berjumlah sekitar 200-an orang. Bahkan kelas remaja masih menumpang di ruang konsistori. Pada 9 Maret 2003 diadakanlah peletakan “Batu Pertama” gedung Serbaguna dan rehabilitasi total gedung Sekolah Minggu. Dengan demikian selanjutnya murid-murid SM bisa berbakti dan mendengar Firman dan cerita Alkitab di kelas-kelas yang cukup memadai.

Seksi Pemuda di GKPS Cikoko bisa bertumbuh pesat karena anggotanya banyak yang menjadi mahasiswa di seputar Jakarta Pusat. Para pemuda itu awalnya ada yang tinggal di asarama UI Rawamangun dan di Jl. Pegangsaan Timur. Di samping itu sebagian dari mereka studi dan tinggal di RS sakit PGI Cikini. Semua ini, ditambah pemuda yang bekerja dan merantau ke Jakarta, membuat tumbuhnya aktifitas pemuda Cikoko, yang juga membuat mereka ikut membantu melayani tugas-tugas majelis jemaat Cikoko.

Kegiatan koor, “partonggoan” di rumah-rumah jemaat, juga perkunjungan kepada pemuda yang sakit telah menjadi aktifitas utama Seksi Pemuda; tentu saja lomba katekisasi dan sayembara koor di tingkat GKPS umumnya diikuti oleh pemuda. Kegiatan-kegiatan ini telah menolong pembauran antara generasi pemuda kelahiran Simalungun-SUMUT dengan yang lahir di Jakarta. Kegiatan-kegiatan itu selain menjadi ajang integrasi pemuda, juga menyediakan kesempatan khususnya bagi pemuda kelahiran Jakarta itu untuk mulai memahami bahasa Simalungun.

Pada awal tahun 1965, para wanita GKPS Jemaat Cikoko relatif sangat muda, sehingga pada awal pemilihan pengurus Wanita GKPS Cikoko tidak satupun yang bersedia karena merasa tidak mampu. Bulan November 1966 , saat kepengurusan yang pertama terbentuk, ketuanya St. Ny LJ Purba, ada perasaan bingung karena tidak dapat berbuat apa-apa dan tidak tahu mau dibawa kemana seksi wanita ini. Jadi awal berdirinya Seksi wanita di GKPS Cikoko ini kegiatan wanita pada mulanya hanya mengikuti kegiatan bersama-sama dengan Majelis Jemaat. Lama kelamaan kegiatannya berkembang mandiri.

Pada awalnya wanita GKPS Cikoko ini belum dapat melaksanakan kegiatan “ mar ari Kamis” di Gereja, karena ruang gereja di pakai pada hari kerja. Maka pertemuan wanita di adakan dari rumah ke rumah ( pada awalnya di rumah Kel. S. Gultom br Purba, jl. Salemba XVIII, dan di Rumah Dinas Pdt. Duniaman Purba, Jl. Tambak ). Walaupun dalam situasi yang demikian perkembangan Seksi wanita ini cukup pesat. Para wanita melayani secara bergiliran, mulai dengan membawakan renungan dan pujian yang semuanya dilaksanakan dalam bimbingan majelis jemaat. Pada mulanya latihan koor wanita harus melibatkan kaum Bapak, misalnya dengan kehadiran Bapak St. A. Sinaga. Selanjutnya seksi wanita karena sudah rutin latihan koor, maka mereka bisa hanpir di setiap kebaktian minggu membawakan Koor dan puji-pujian. Setiap tahunnya seksi Wanita ini mengadakan kunjungan Pelayanan Kasih kepada “Inang Naomi” (para janda), anak yatim piatu dan para duda. Dan dalam rangka menyambut hari Natal, dilakukanlah kunjungan ke berbagai kelompok dengan membawa bingkisan–bingkisan Natal sebagai tanda kasih.

Aktifitas lainnya -di masa-masa awal kehidupan bergereja- Seksi Wanita turut serta mengumpulkan dana dalam proses membangun gedung gereja. Tentu selanjutnya, misalnya tahun 1977, Wanita GKPS Cikoko turut serta dalam sayembara koor dan katekhisasi wanita se GKPS yang di selenggarakan di Aula UKI Cililitan-Jakarta. Dalam sayembara itu Wanita GKPS Cikoko berhasil meraih Juara Umum. Para wanita GKPS juga mengikuti pelatihan–pelatihan kepemimpinan dan mengikuti beberapa Seminar, juga tentunya kegiatan yang bersifat ekumenis, khususnya di wilayah DKI. Malah anggota wanita GKPS Cikoko ada yang duduk di kepengurusan PGI Wilayah Jakarta tersebut.

Seksi Bapa Jemaat GKPS Cikoko didirikan dalam semangat Keputusan Pimpinan Pusat GKPS No. : 199/1-/1995, bahwa “Tuppuan Bapa GKPS” menjadi Seksi Bapa GKPS. Kegiatan seksi bapak GKPS Cikoko antara lain ialah PA ( Penelahaan Alkitab ) yang dipandu oleh para Sintua di hari Sabtu. Tujuannya untuk tumbuh dan berkembang dalam iman kristiani di tengah keluarga, gereja dan masyarakat. Setelah acara PA, maka biasanya dilanjutkan dengan Koor dan Vocal Group untuk ditampilkan pada acara kebaktian Minggu. Selain acara rutin ini Sesi Bapa GKPS Cikoko juga aktif dalam pelayanan sosial baik berupa kunjungan ke sesama Bapa, malah kunjungan juga bisa melintas jauh dengan memberi dukungan sampai ke seksi Bapa di Simalungun. Bahkan perkunjungan tersebut ditingkatkan menjadi pemberian dukungan pendidikan GKPS di daerah Simalungun.

Untuk lebih meningkatkan aktifitasnya, maka kepengurusan seksi Bapa dibagi ke dalam kordinator-kordinator, antara lain kordinator Kerohanian dan Pastoral, Diakonia, Olahraga, Pendidikan/Kebudayaan, Dana/Usaha juga Humas.